Bab 2: Ksatria Tanpa Masa Lalu

Bisikan di Senja712 kata16/1/2024

Pasar Twilight selalu ramai saat senja—yang artinya, selalu. Pedagang berteriak menawarkan ramuan, kristal yang bersinar, dan artefak dari era yang terlupakan. Elara berjalan di antara kerumunan, manuskrip tersembunyi rapi di dalam tas punggungnya, hatinya masih berdebar dari pertemuan dengan Caelum tadi malam.

*Ikuti peta*, pikirnya. *Tapi ke mana?*

Peta menunjukkan titik pertama: Gerbang Bayangan, pintu masuk ke Hutan Berubah—tempat yang tidak boleh dimasuki tanpa izin dari Dewan Akademi. Tempat yang menurut legenda, memakan para penjelajah yang tidak siap.

"Butuh pemandu?"

Elara berhenti. Di depannya berdiri seorang pria tinggi berpakaian zirah kusam, pedang tergantung di pinggangnya. Wajahnya tampan namun lelah, dengan bekas luka tipis melintang di pipinya. Yang paling menarik perhatian Elara adalah matanya—kosong, bingung, seperti orang yang terbangun dari tidur panjang dan tidak tahu di mana ia berada.

"Maaf?" kata Elara.

"Kamu terlihat seperti akan melakukan sesuatu yang berbahaya," kata pria itu dengan senyum kecil. "Dan kebetulan, aku... tidak punya banyak hal untuk dilakukan."

"Aku tidak butuh bantuan," jawab Elara cepat.

"Tentu." Pria itu tidak beranjak. "Tapi kamu akan memasuki Hutan Berubah, kan? Aku bisa melihatnya dari cara kamu terus-menerus melihat ke arah Gerbang Bayangan."

Elara terkejut. "Bagaimana kamu—"

"Aku hanya bisa... merasakannya. Tidak tahu kenapa." Pria itu mengernyitkan dahi, seperti berusaha mengingat sesuatu yang tidak ada. "Sebenarnya, aku tidak tahu banyak hal tentang diriku. Namaku... aku pikir namaku Aldric. Atau mungkin bukan. Aku terbangun tiga hari lalu di pinggir kota tanpa ingatan apa pun."

"Tanpa ingatan?" Elara mengamatinya dengan curiga. "Bagaimana aku tahu kamu bukan mata-mata atau..."

"Kamu tidak tahu." Aldric mengangkat bahu. "Tapi aku punya perasaan—perasaan kuat—bahwa aku harus membantumu. Dan percayalah, di dunia yang beku dalam senja ini, perasaan adalah satu-satunya hal yang terasa nyata."

Ada sesuatu di matanya yang membuat Elara ragu. Bukan karena ia percaya, tetapi karena ia melihat keputusasaan yang sama—kebutuhan untuk menemukan jawaban, untuk memahami sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.

Sebelum ia bisa menjawab, kerumunan tiba-tiba berteriak. Elara menoleh dan melihat asap hitam mengepul dari ujung pasar. Suara ledakan. Api ungu—tidak, bukan api biasa—api yang bergerak seperti makhluk hidup, melahap kios satu per satu.

"Bakar semua yang terkait dengan Penjaga Pertama!" teriak seseorang berpakaian jubah gelap, tongkat berukir di tangannya. "Senja tidak boleh berakhir!"

*Kultus Kegelapan Abadi*, pikir Elara. Ia pernah membaca tentang mereka—kelompok fanatik yang percaya bahwa mengakhiri senja akan menghancurkan dunia.

"Lari!" teriak Aldric, mendorongnya.

Tapi Elara tidak berlari. Tangannya bergerak refleks, menarik syal dari lehernya dan melemparkannya ke udara sambil mengucapkan mantra. Syal itu berubah menjadi perisai cahaya yang menahan terjangan api ungu.

Anggota kultus menatapnya tajam. "Kamu! Kamu yang membuka manuskrip!"

*Bagaimana mereka tahu?*

Sebelum Elara bisa bereaksi, Aldric sudah bergerak. Pedangnya terhunus dengan gerakan yang terlalu cepat dan presisi untuk seseorang yang kehilangan ingatan—gerakan seorang ksatria terlatih, mungkin bahkan seorang master. Dalam hitungan detik, ia melucuti dua anggota kultus dan memaksa yang lainnya mundur.

"Kita pergi. Sekarang," kata Aldric, menarik lengan Elara.

Mereka berlari menembus kerumunan yang panik. Elara mendengar teriakan di belakangnya: "Carilah mereka! Jangan biarkan mereka mencapai Jantung Senja!"

Di persimpangan jalan, Caelum tiba-tiba muncul dari bayang-bayang, seperti selalu ada di sana.

"Kalian lebih cepat dari yang kukira," katanya tenang. "Tapi kultus itu hanya permulaan. Ada kekuatan lain yang bergerak—kekuatan yang lebih tua, lebih berbahaya."

"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Aldric, pedang masih teracung.

Caelum menatapnya lama, kemudian senyum tipis muncul di wajahnya. "Kamu tidak ingat aku, Aldric? Atau mungkin kamu ingat dirimu sebagai nama lain—Ser Aldric dari Garda Fajar, ksatria yang bersumpah melindungi Penjaga Terakhir?"

Aldric terdiam. Sesuatu berkilat di matanya—fragmen ingatan yang tidak lengkap.

"Aku... aku pernah mengenal kamu?"

"Kamu pernah mencoba membunuhku," jawab Caelum. "Dan aku yang menghapus ingatanmu sebagai hukuman. Tapi sekarang, mungkin itu berkah—karena jika kamu ingat siapa dirimu, kamu akan membunuh Elara."

Elara tersentak. "Apa?"

Caelum berbalik, berjalan menuju kegelapan. "Ikuti aku jika kalian ingin jawaban. Gerbang Bayangan menunggu. Dan waktu senja semakin menipis."