Bab 1: Manuskrip yang Berbisik
Angin senja membawa aroma kemenyan dan daun maple yang membusuk. Elara berdiri di balkon perpustakaan Akademi Twilight, memandang cakrawala yang tidak pernah berubah—gradasi ungu dan emas yang membeku dalam waktu, seolah dunia lupa bagaimana rasanya melihat fajar.
"Empat ratus tahun," gumamnya pada dirinya sendiri. "Empat ratus tahun senja abadi."
Di tangannya, sebuah buku tua berdebu yang baru ia temukan di bagian terlarang perpustakaan. Sampulnya tidak memiliki judul, hanya simbol melingkar yang berkilauan samar—simbol yang ia kenal dari mimpi-mimpinya.
Ketika ia membuka halaman pertama, huruf-huruf di atasnya mulai bergerak. Bukan bergerak secara literal, tetapi seperti bernapas, berdenyut dengan energi sendiri. Dan kemudian, bisikan itu datang.
Bukan suara yang didengar dengan telinga, tetapi sensasi langsung di pikirannya—lembut, seperti suara jauh yang terbawa angin:
*"Sang Pencari telah tiba. Senja menunggu akhirnya."*
Elara tersentak, hampir menjatuhkan buku. Jantungnya berdegup kencang. Tidak ada yang pernah memberi tahu dia bahwa manuskrip ini hidup.
"Siapa kamu?" bisiknya.
Tidak ada jawaban. Hanya halaman yang berubah dengan sendirinya, mengungkap peta yang tidak pernah ia lihat sebelumnya—peta yang menunjukkan tempat yang seharusnya tidak ada: **Jantung Senja**.
Di sudut ruangan, seseorang mengamatinya. Seorang pemuda berambut perak dengan mata yang berkilauan seperti bintang. Ia tidak bergerak, tidak bersuara, hanya mengamati dengan tatapan yang terlalu tua untuk wajahnya yang muda.
"Kamu menemukannya," katanya akhirnya, suaranya datar namun membawa nada yang aneh—seolah ia sudah menunggu momen ini selama berabad-abad.
Elara berbalik, refleks menutup buku dengan keras. "Siapa kamu? Bagaimana kamu masuk ke perpustakaan yang terkunci?"
Pemuda itu melangkah keluar dari bayangan. "Namaku Caelum. Dan aku di sini karena kamu membangunkan sesuatu yang seharusnya tetap tidur."
"Aku tidak membangunkan apa-apa. Aku hanya—"
"Membuka manuskrip yang telah tersegel selama empat abad," potong Caelum. "Manuskrip yang ditulis oleh Penjaga Pertama. Manuskrip yang menyimpan rahasia kenapa senja kita tidak pernah berakhir."
Elara merasakan dingin menjalar di punggungnya. "Kamu tahu tentang ini?"
"Lebih dari yang kamu bayangkan." Caelum mendekat, dan Elara bisa melihat sesuatu yang aneh di matanya—seperti ada galaksi kecil yang berputar di sana. "Dan sekarang kamu telah membuka pintu, mereka akan datang. Mereka yang ingin senja berakhir, dan mereka yang ingin kegelapan abadi."
"Aku tidak mengerti—"
"Kamu akan mengerti." Caelum meraih tangannya, dan tiba-tiba visi menghujam pikirannya—kota yang terbakar, langit yang retak seperti kaca, sosok berjubah gelap yang berdiri di tengah kehancuran, dan di tengahnya semua, sebuah kristal bercahaya yang berdenyut dengan kekuatan yang tak terbayangkan.
Elara terengah, menarik tangannya. "Apa itu?"
"Masa depan. Atau masa lalu. Dalam Aethermoor, keduanya sering kali sama." Caelum mundur selangkah. "Kamu punya dua pilihan, Elara Moonwhisper. Kembalikan manuskrip itu dan lupakan semua ini—jalani hidupmu yang aman di akademi. Atau ikuti peta itu dan temukan kebenaran tentang dunia kita."
"Kenapa aku harus mempercayaimu?"
"Karena aku satu-satunya orang yang bisa membantumu bertahan hidup dari apa yang akan datang." Caelum berbalik, berjalan menuju pintu. Sebelum menghilang, ia menoleh kembali. "Dan karena di dalam mimpimu, kamu sudah tahu jawabannya."
Elara berdiri sendirian di perpustakaan yang gelap, manuskrip masih di tangannya. Peta di dalamnya bersinar samar, seperti menunjuk arah.
Di luar jendela, untuk pertama kalinya dalam empat ratus tahun, warna senja berubah—sebentar saja, hampir tidak terlihat—menjadi sedikit lebih gelap.
Sesuatu telah dimulai. Dan tidak ada jalan untuk kembali.