Bab 1: Surat dari Masa Lalu
Maya tidak pernah menyangka bahwa kematian ayahnya akan membawa ia kembali ke pertanyaan yang tidak pernah terjawab.
Sudah dua bulan sejak pemakaman. Dua bulan sejak ia berdiri di samping makam dengan mata kering, tidak bisa menangis karena hubungan mereka yang selalu terasa... tidak lengkap. Ayahnya, Pak Surya, adalah arsitek terkenal—pria yang mencurahkan hidupnya untuk bangunan dan proyek, tetapi tidak pernah benar-benar "ada" untuk keluarganya.
Maya menghabiskan sore itu di rumah lama ayahnya di Jakarta, menyortir barang-barang. Ibu tirinya sudah pindah, meninggalkan rumah ini padanya. Di loteng yang pengap, ia menemukan sebuah kotak kayu berukir—kotak yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Di dalamnya, surat-surat. Puluhan surat, ditulis tangan di atas kertas yang menguning, bertanggal 1993—tahun sebelum Maya lahir.
Surat pertama tidak bertanggal, hanya inisial di pojok kanan atas: *A.R.*
*"Surya,*
*Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Aku tidak tahu apakah kamu akan menerima surat ini, atau bahkan membacanya. Tapi aku harus mencoba.*
*Keputusanmu untuk pergi ke Jakarta adalah pilihanmu. Aku menghormati itu. Tapi bukan berarti hatiku tidak hancur. Semarang terasa kosong tanpamu. Rumah lama kita yang kita rencanakan akan kita renovasi bersama masih berdiri, menunggu, seperti aku menunggu.*
*Apakah kamu pernah menyesali pilihanmu? Apakah kamu pernah berpikir tentang apa yang mungkin terjadi jika kamu tinggal?*
*Aku tahu kita berdua punya impian yang berbeda. Tapi cinta seharusnya cukup, kan?*
*Aku harap kamu bahagia di sana. Aku harap kamu menemukan apa yang kamu cari.*
*Dengan cinta yang tidak pernah padam,* *A.R."*
Maya menatap surat itu lama. Ayahnya tidak pernah menceritakan tentang seseorang bernama A.R. Tidak pernah menyebut Semarang sebagai tempat yang berarti. Dalam semua cerita yang ia dengar, ayahnya selalu "dari Jakarta"—seolah tidak pernah ada masa lalu sebelum itu.
Ia membuka surat berikutnya. Dan berikutnya. Semuanya dari A.R., ditulis dalam rentang dua tahun. Setiap surat semakin pendek, semakin putus asa, hingga yang terakhir—hanya satu kalimat:
*"Aku akan berhenti menunggu. Tapi aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu."*
Di bagian bawah kotak, ada sebuah foto lama yang kusam. Ayahnya, jauh lebih muda, berdiri di depan sebuah rumah kolonial dengan seorang wanita. Wanita itu cantik, dengan senyum yang hangat dan mata yang penuh kehidupan. Di belakang foto, tulisan tangan: *Rumah kita. Semarang, 1992.*
Maya merasakan dadanya sesak. Siapa wanita ini? Kenapa ayahnya tidak pernah bicara tentangnya?
Ia membalik foto. Ada alamat tertulis samar: *Jalan Pemuda 142, Semarang.*
Tanpa berpikir panjang, Maya mengambil ponselnya dan memesan tiket kereta ke Semarang.
—
Tiga hari kemudian, Maya berdiri di depan Jalan Pemuda 142.
Rumah itu masih berdiri—rumah kolonial tua dengan cat yang mengelupas, jendela besar dengan kaca pecah di beberapa bagian, dan taman yang terbengkalai. Ada papan bertuliskan: *Proyek Restorasi Bangunan Bersejarah—Kontraktor: Arjuna Heritage Restoration.*
Seseorang keluar dari pintu depan—seorang pria bertubuh atletis dengan kaos berdebu dan sarung tangan kerja. Rambutnya berantakan, wajahnya serius namun tampan dengan cara yang kasar.
Ketika ia melihat Maya, ia berhenti.
"Bisa saya bantu?" tanyanya, suara dalam dan tenang.
Maya mengangkat foto. "Saya mencari informasi tentang rumah ini. Tentang... seseorang yang pernah tinggal di sini."
Pria itu turun dari tangga, mendekat. Ketika matanya jatuh pada foto, ekspresinya berubah—terkejut, kemudian bingung.
"Itu foto ayahku," katanya pelan. "Dan ibuku."
Maya merasakan dunia berputar.
"Apa?" bisiknya.
Pria itu menatapnya tajam. "Siapa kamu? Dan dari mana kamu dapat foto ini?"
"Aku... aku Maya. Ini foto ayahku. Surya."
Keheningan. Lalu pria itu mundur selangkah, seperti terkena pukulan.
"Surya," ulangnya, suaranya bergetar. "Pria yang meninggalkan ibuku 30 tahun lalu."
Maya dan pria itu—Arjuna—berdiri berhadapan, dua orang asing yang tiba-tiba menyadari bahwa masa lalu mereka terikat dalam cara yang tidak pernah mereka bayangkan.
Dan di antara mereka, rumah tua itu berdiri—menyimpan rahasia yang akan mengubah segalanya.