Bab 1: Pesan Pertama
Hujan turun deras malam itu ketika Detective Alex Chen tiba di TKP.
Korban pertama ditemukan di gang sempit di distrik keuangan—seorang pengacara berusia 45 tahun, tidak ada luka tampak, tetapi ekspresi wajahnya membeku dalam ketakutan yang luar biasa. Tidak ada tanda-tanda perkelahian, tidak ada jejak pelarian. Seolah ia mati begitu saja, hatinya berhenti karena sesuatu yang tidak kasatmata.
Tapi yang membuat kasus ini berbeda adalah selembar kertas terlipat rapi di tangan korban.
Detective Sarah Lin, partner Alex, membuka kertas itu dengan sarung tangan forensik. Di atasnya, tulisan tangan yang rapi:
*"Bab I: Pria yang Takut akan Kebenaran*
*Ia berlari dari masa lalunya, berlindung di balik hukum dan kekayaan. Tapi keadilan tidak bisa dibeli. Dan ketakutan adalah hukuman terberat."*
Sarah mengernyit. "Apa maksudnya ini? Semacam... cerita?"
Alex tidak menjawab. Ia tidak bisa—suaranya hilang sepuluh tahun lalu, dalam insiden yang bahkan ia tidak bisa sepenuhnya ingat. Ia mengeluarkan tablet kecil dari sakunya dan mengetik cepat:
*"Ini bukan sekadar pesan. Ini narasi. Pembunuh sedang menceritakan kisah."*
Sarah membaca layar tablet, kemudian menatap Alex. "Kisah tentang apa?"
Alex menatap korban lama. Kemudian ia mengetik lagi:
*"Tentang korban-korbannya. Dan mungkin, tentang kita."*
—
Tiga hari kemudian, korban kedua ditemukan.
Kali ini, seorang jurnalis terkenal, ditemukan di apartemennya yang mewah. Seperti sebelumnya, tidak ada tanda-tanda kekerasan fisik—hanya ekspresi ketakutan yang sama. Dan selembar kertas:
*"Bab II: Wanita yang Menulis Kebohongan*
*Kata-kata adalah senjata yang lebih tajam dari pisau. Ia tahu itu. Ia menggunakannya untuk menghancurkan nyawa, untuk menyembunyikan kebenaran. Tapi kebohongan selalu meninggalkan jejak. Dan jejak itu membawanya ke sini."*
Alex berdiri di apartemen yang sunyi, mengamati setiap detail. Tidak ada jejak pembobolan, tidak ada kamera keamanan yang merekam sesuatu yang mencurigakan. Pembunuh datang dan pergi seperti hantu.
Sarah mendekatinya. "Alex, kita perlu bantuan. Ini bukan kasus biasa. Mungkin... profiler? Atau pakar kriptografi?"
Alex mengangguk. Ia sudah memikirkan hal yang sama. Pesan-pesan ini bukan sekadar catatan pembunuhan—ini adalah teka-teki yang rumit, sebuah kode tersembunyi yang hanya bisa dipecahkan jika mereka memahami pola di baliknya.
Ia mengetik:
*"Aku tahu seseorang."*
—
Dr. Kira Tanaka adalah salah satu kriptografer terbaik di negara ini—dan juga salah satu yang paling eksentrik. Kantornya terletak di gedung tua di pinggir kota, penuh dengan papan tulis berisi persamaan matematika, buku-buku kuno tentang kode rahasia, dan model 3D dari pola geometris yang aneh.
Ketika Alex dan Sarah masuk, Kira sedang berdiri di depan papan tulis, menggambar diagram yang rumit dengan spidol merah.
"Alex Chen," katanya tanpa menoleh. "Sudah lama. Sepuluh tahun, tepatnya. Sejak insiden di Gedung Arkham."
Sarah terkejut. "Kamu kenal Alex?"
Kira akhirnya berbalik, kacamata tebal di hidungnya. "Kenal? Kami pernah bekerja sama di kasus terakhir sebelum Alex kehilangan suaranya. Kasus yang tidak pernah diselesaikan." Ia menatap Alex. "Dan sekarang kamu di sini dengan kasus baru. Tunjukkan."
Alex memberikan fotokopi kedua pesan. Kira membacanya, matanya bergerak cepat, kemudian ia tertawa—tawa yang terdengar lebih seperti kagum daripada senang.
"Brilian," gumamnya. "Pembunuh ini... ia tidak sekadar membunuh. Ia menulis cerita. Dan korban-korban ini adalah karakter dalam narasinya."
"Apa maksudmu?" tanya Sarah.
Kira menunjuk pesan pertama. "Lihat strukturnya. 'Bab I,' 'Bab II'—ini bukan metafora. Ini literal. Pembunuh sedang menulis novel kriminal, dan pembunuhan ini adalah plot poin."
Ia berjalan ke komputernya, mengetik cepat. "Jika ini novel, maka harus ada... tema. Motif. Dan pola."
Alex mengetik:
*"Korban pertama: pengacara. Korban kedua: jurnalis. Apa kesamaan mereka?"*
Kira memiringkan kepala. "Keduanya orang yang profesinya berbasis 'kebenaran'—atau manipulasi kebenaran. Pengacara membela atau menyerang berdasarkan interpretasi fakta. Jurnalis menulis berita yang membentuk persepsi publik."
Sarah terdiam sejenak. "Jadi pembunuh ini... membunuh orang yang dianggapnya 'berdosa' terhadap kebenaran?"
"Mungkin," kata Kira. "Atau mungkin ada koneksi yang lebih dalam." Ia menatap Alex. "Dan aku punya firasat buruk bahwa kamu akan menjadi bagian dari cerita ini. Karena kasus di Gedung Arkham? Itu juga tentang kebenaran yang tersembunyi."
Alex merasa dingin menjalar di punggungnya. Ia tidak pernah bisa melupakan Gedung Arkham—malam ketika semuanya berubah, ketika ia kehilangan suaranya dan saksi kunci menghilang tanpa jejak.
Ia mengetik:
*"Kita tidak punya waktu untuk masa lalu. Kita perlu menemukan pembunuh ini sebelum 'Bab III.'"*
Kira tersenyum tipis. "Terlambat, Alex. Aku rasa 'Bab III' sudah dimulai."
Ponsel Sarah berdering. Ia mengangkat, wajahnya pucat.
"Ada korban ketiga. Dan pesan kali ini... berbeda."
—
Korban ketiga adalah seorang detektif pensiun. Ditemukan di ruang kerjanya sendiri, duduk di kursi dengan pesan terbuka di pangkuannya:
*"Bab III: Detektif yang Menutup Mata*
*Ia tahu kebenaran. Ia melihatnya dengan matanya sendiri. Tapi ia memilih untuk diam—karena kebenaran terlalu berbahaya untuk diungkap. Sekarang, kebisuan itu adalah hukumannya.*
*Dan untuk Detektif Chen: ini adalah undangan. Kamu adalah satu-satunya yang bisa mengakhiri cerita ini. Tapi apakah kamu siap menghadapi endingnya?"*
Alex menatap pesan itu, tangan gemetar. Nama detektif pensiun itu adalah Thomas Grant—pria yang pernah bekerja di kasus Gedung Arkham.
Dan sekarang ia tahu: masa lalu tidak pernah benar-benar berlalu. Cerita yang dimulai sepuluh tahun lalu... baru saja mendapat kelanjutannya.